Hidangan Jepang dan Kawanan Burung Hantu


Burung hantu ada di setiap sudut di Fukuro. Saat memasuki lobi restoran Jepang yang berlokasi di lot 14 SCBD—kawasan bisnis sentral Sudirman—Jakarta Selatan, itu, kita disambut burung hantu pink sepinggang orang dewasa. Dindingnya juga berhiaskan ornamen burung hantu.

Masuk ke koridor yang menuju ruang utama, ternyata masih keluar unggas giat malam ini. Juga di dinding wastafel kamar mandi dan di pembatas ruang utama dengan bar. "Fukuro bisa diartikan 'burung hantu'," kata Arastrea Vicamileva, manajer bar Fukuro, awal Juni lalu.

Vica—sapaan Arastrea Vicamileva—mengatakan burung hantu memang menjadi tema restoran yang dibuka sejak September tahun lalu itu. Di barat, burung bermata belo ini melambangkan kebijaksanaan. Di Jepang, burung itu dianggap sebagai pembawa kebahagiaan. Mitos-mitos itulah yang ingin dibawa sang pemilik, Rio Okawa, ke Fukuro. Rio, ucap Vica, adalah anak muda yang menyukai desain kontemporer.

Kecintaan sang pemilik akan seni tata ruang menjadi nilai tambah rumah makan ini. Sembari menunggu pesanan datang, kita bisa mengeksplorasi ruangan. Ruang makan utama didominasi tiga tembok yang juga mewakili tema berbeda. Sudut pertama adalah dinding dengan bertempel topeng, dari topeng setan (oni), topeng lelaki tradisional (hyottoko), hingga topeng rubah (kitsune). Dari topeng yang aslinya warna-warni diubah Rio menjadi hanya mengandung warna emas dan perak.

Beralih ke dinding kedua. Ini adalah ajang pamer koleksi bearbrick. Boneka beruang berbadan robot produksi perusahaan mainan Jepang, Medicom Toy, ini tertata hingga empat tingkat. "Pengunjung boleh memainkannya," kata Vica.

Tembok terakhir yang berhadapan langsung dengan dinding bearbrick ini adalah galeri pelukis kesukaan Rio, Takashi Murakami. Ada empat lukisan bertema sama, yaitu pria tua botak penggerutu. "Ini adalah lokasi favorit untuk foto-foto," kata Vica.

Perempuan menjadi salah satu obyek kesukaan Rio, selain burung hantu. Keberadaannya pun bisa ditengok di bantal-bantal yang tersandar di sofa.

Puas memandangi interior Fukuro, waktunya kembali ke tujuan utama: meja makan. Pesanan kami mulai dengan Gindara Miso lokal (Rp 60 ribu). Sebagai pembuka, ikan itu disajikan dalam keranjang hijau bersama lobak yang terendam miso cokelat pekat. Miso adalah bumbu masak yang dibuat dari fermentasi rebusan kedelai dan beras.

Gindara, yang umumnya hanya dibakar, ternyata cocok bersanding dengan miso. Ini berkat resep temuan Nobu Matsuhisa, pemilik jejaring restoran Jepang yang tersebar dari Tokyo, New York, sampai Cape Town. Di Fukuro, ikan gindara ini terselimuti kuah cokelat yang berasa manis dan gurih. Ketika membelah dagingnya, terlihat bahwa bumbu hanya menyelimuti permukaan. Bagian dalam fillet gindara berwarna putih itu tidak terkontaminasi bumbu yang kuat. Cobalah mencicipinya dengan mencampurkan ikan ke sedikit bumbu dan secuil lobak. Jadilah kombinasi, gurih, manis, dan segar.

Dari gindara, Tempo beralih ke salmon sashimi (Rp 100 ribu). Lima irisan salmon setebal 1,5 sentimeter tertata apik di atas mangkuk es. Es batu yang sudah diserut dan dipadatkan menjadi landasan untuk menjaga agar salmon tetap segar.

Penampilannya cantik. Rasanya juga seindah penyajiannya. Tanpa kecap asin dan wasabi, salmon ini membuat lidah tak berhenti berdecak. Tak keluar amis maupun earthy alias rasa tanah. Teman yang paling pas adalah irisan jahe karena kombinasi laut-salmon dan tanah-jahe seperti menjadi pertemuan sempurna dari "gunung es" itu.

Tibalah di makanan utama, yaitu special unagi donburi lokal (Rp 200 ribu). Sajian ini merupakan menu andalan di restoran Hanabusa milik ibunda Rio yang berada di Tokyo.

Unagi atau sidat alias belut adalah satu makanan favorit di Jepang. Awalnya Fukuro ingin mengkhususkan restoran unagi. "Tapi orang Indonesia ternyata belum familiar," ujar Vica. Akhirnya unagi yang diambil dari peternakan di Banyuwangi tersebut dijadikan satu sajian spesial.

Seperti ikan gindara, unagi yang ada bisa dipilih dari produksi lokal atau impor dari Jepang. Vica mengatakan cara memasaknya sama. Hanya bahan utama yang berbeda. Sidat tersebut dipanggang dan dilumuri bumbu khas. Setelah matang, kemudian dipotong kotak yang pas untuk satu kali santapan. Irisan itulah yang ditata di atas nasi putih panas mengepul. Asapnya keluar sewaktu tutup mangkuk kayu terbuka. "Jadi nasi dapat bumbu dari panggangan unagi," kata Vica. Rupanya bumbu itu meresap masuk ke bulir-bulir nasi hangat, sehingga yang kelihatan adalah nasi berbumbu.

Bulir beras tanak ini dimasak pera, beda dengan sushi yang lengket. Maka menyuapnya lebih nyaman dengan sendok ketimbang sumpit. Bumbu bakar yang berasa manis, dan juga daging yang tentunya manis, bisa dinetralkan dengan semangkuk kaldu. Pemesan unagi don juga mendapat kaldu dalam teko yang bisa diracik sendiri dengan tambahan nori (irisan rumput laut kering), bawang putih, dan daun bawang. Cara makan kuah tersebut adalah dengan dicampur nasi. "Penyajian ini yang khas dari Fukuro," kata Vica.

Tak lupa kami memesan Mugicha (Rp 40 ribu). Teh barley—teh bebas kafein yang populer di Asia Timur—ini bisa diisi ulang. Mugicha lebih gelap ketimbang ocha, teh Jepang. Mugicha sebenarnya lebih cocok dengan selera Indonesia yang familiar dengan teh-teh dari Priangan. Mugicha pun ampuh untuk menetralkan lidah dari aneka hidangan yang gurih, manis, dan berlemak dari laut tersebut. Untuk penutup, tentu masih butuh sesuatu yang manis.

Pilihannya adalah dessert yang unik, yaitu Es Campur Dewasa Green Tea (Rp 75 ribu). Menurut Vica, kata "dewasa" dalam es itu berasal dari chef Jepang mereka yang salah memaknai besar. "Memang porsinya besar, bisa untuk dua hingga empat orang," ujarnya.

Isinya adalah moci, hancuran kacang merah, keju mascarpone, dan matcha atau teh hijau. Pelengkapnya adalah Pocky, camilan stick bersalut cokelat asal Jepang yang juga populer di Indonesia. Campuran keju mascarpone dan matcha memberi warna hijau telur asin di seluruh mangkuk yang menenggelamkan moci-moci putih itu. Kenyal-kenyal, manis, dan legit khas keju membuat es ini menjadi penutup sempurna dari acara santap itu.

Source : showbiz.liputan6.com

0 Response to "Hidangan Jepang dan Kawanan Burung Hantu "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel