Perlukah RI Punya Kereta Cepat Seperti Jepang dan China?


Negara-negara di dunia saat ini sedang berlomba membangun infrastruktur kereta cepat atau 'kereta peluru', yang kini hanya ada di beberapa negara seperti Jepang, China, Jerman, Prancis dan lainnya.

Selain Indonesia, beberapa negara seperti Malaysia-Singapura, Rusia, India dan lainnya juga berambisi punya jaringan kereta cepat di negaranya.

Sebagian masyarakat Indonesia sangat mendambakan kereta cepat ini bisa segera terealisasi di Indonesia. Namun ada juga yang keberatan atau menolak, apalagi bila kereta cepat hanya dibangun di Pulau Jawa yaitu Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini sedang menyeleksi siapa investor pemenang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung pada tahun 2015, yang calonnya adalah China dan Jepang. Selain rencana kereta cepat di Jawa, Presiden Jokowi juga punya program pembangunan kereta di luar Pulau Jawa.
Baca juga : Berikut 10 tempat yang paling indah di Jepang
Direktur Institut Studi Transportasi (Intrans) Darmaningtyas berpendapat kereta cepat bukan proyek prioritas bagi Indonesia saat ini, mengingat Jakarta-Bandung sudah tersedia jalan tol dan sudah ada jaringan kereta api yang sekarang dioperasikan oleh PT KAI, sedangkan Jakarta-Surabaya sudah tersedia jalur ganda kereta api.

Menurutnya pemerintah hanya perlu mengoptimalkan jalur tersebut untuk perjalanan kereta api. Penerbangan Jakarta-Surabaya juga lancar sehingga keberadaan jalur kereta api cepat di Indonesia seharusnya bukan prioritas.

Ia justru mendesak prioritas pembangunan infrastruktur bagi Indonesia adalah pemerataan antara Jawa dan luar Jawa, utamanya Indonesia Timur.

"Saya menilai, pembangunan kereta cepat di Jawa itu dapat semakin memperlebar kesenjangan infrastruktur antara Jawa dan Luar Jawa, semua infrastruktur yang bagus ada di Jawa, sedangkan luar Jawa (kecuali Sumatera) belum mempunyai jaringan kereta api satu pun," kata Darmaningtyas kepada detikFinance, Selasa (21/7/2015)

Darmaningtyas mengatakan bila proyek kereta cepat didanai oleh swasta akan berdampak pada tingginya harga tiket yang harus dibayar oleh penumpang. Bila harga tiket terlalu tinggi, maka kereta tidak akan laku maka dampaknya tidak mencukupi biaya operasional perusahaan pengembang.

"Sedangkan bila dibangun dengan menggunakan APBN saya tidak setuju karena itu berarti akan semakin menimbulkan kecemburuan Jawa dan luar Jawa. Presiden Jokowi hendaknya lebih fokus membangun infrastruktur di luar Jawa, jangan hanya Jawa saja. Kehadiran Jokowi ini diharapkan dapat mengoreksi kesalahan pembangunan masa lalu, jangan malah mengulangi kesalahan masa lalu," pesan Darmaningtyas.

Ia mengatakan saat ini, jalan-jalan antar kabupaten di luar Jawa, terutama Kalimantan, Sulawesi, NTT, dan Papua masih amat buruk. Ia mendorong APBN lebih baik dialokasikan di luar Jawa.

"Saya menolak kalau Presiden Jokowi akan membangun kereta cepat tersebut, karena lebih baik Presiden Jokowi fokus memprioritaskan pembangunan infrastruktur di luar Jawa agar tercipta pemerataan pembangunan infrastruktur," katanya.

Sementara itu, secara terpisah Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengatakan Indonesia harus berlomba memacu pertumbuhan dengan China dan India. Salah satu fokusnya adalah transformasi ekonomi antara lain dengan keberadaan transportasi kereta cepat.

Danang berpendapat kereta cepat harus menjadi instrumen transformasi perkotaan baru di Indonesia. Namun bila hanya mengangkut orang saja maka biaya atau ongkos kereta cepat menjadi mahal.

"Sebagai simbol boleh saja pemerintah mencanangkan (kereta cepat). Tapi sebagai proses perencanaan dan perancangan yang matang termasuk pengaturan tata ruang dan pengelolaan pembiayaan, saya memperkiraan operasi dari kereta api cepat baru bisa dilakukan 5 tahun yang akan datang. Itu saja kalau seluruh proses berjalan lancar," kata Danang.

Source : Detik.com

0 Response to "Perlukah RI Punya Kereta Cepat Seperti Jepang dan China?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel